Suatu hari saya bermimpi, mimpi buruk sekali

Gw seakan berbicara pada negara.

dan negara seakan berbentuk seorang manusia.

 

dia mencaci maki gw,

rakyat gila yang mengomentari keadaan dia.

dia berbalik mencaci maki gw.

 

dari caci maki negara pada gw,

muncul pertanyaan besar dan cukup banyak…

kenapa? kenapa? kenapa? dan kenapa?

 

 

kenapa negeri ini begitu banyak sarjana berkualitas

tapi tidak juga mengubah negara menjadi berkualitas.

 

kenapa????

mungkin karena terlalu banyak orang yang sudah pinter,

jadi mereka merasa cukup pintar

untuk mengomentari segala sesuatu.

 

mengomentari sistem perekonomian SMI (sekarang pejabat bank dunia)

yang dianggap liberal, kapitalis, dan sebagainya…

 

mengomentari kasus bibit chandra yang dianggap dewa kebenaran

anggodo-lah yang menjadi koruptor dan sampah negara.

 

klo emang ga paham,

kenapa ga diem aja,

ga usah komentar yang macem-macem,

manas-manasin negara aja…

 

klo ngrasa atlit bulu tangkis,

ga usah komentar yang macem-macem

kenapa del piero cuma lari muter-muter ga pernah dapet bola.

 

klo emang ahli ekonomi,

ga usah komentar macem-macem tentang kasus hukum bibit chandra.

 

klo emang ahli genjot becak,

ga usah komentar macem-macem tentang sistem perekonomian indonesia.

 

klo mang ga tau ilmunya subsidi negara,

ga usah langsung mencak-mencak

denger isu pencabutan subsidi premium..

 

klo emang ga pernah nangani krisis ekonomi,

ga usah menyalahkan orang yang berani menangani krisis.

udah berhasil malah disalahkan,

udah diundang malah diwalk out,

udah menyingkir malah ditarik-tarik.

sungguh pintar….

 

 

kenapa kita ga nyontoh orang bodoh aja,,

karena bodoh, dia takut bicara macam-macam

dia cari ilmunya dulu baru berani bilang ini itu.

 

kenapa kita ga nyontoh orang idiot aja,,

yang klo ditanya yang macem-macem

dia cuma melongo,, meta mendelo,, ditambah iler ngeces,,,

karena dia emang ga ngerti sama sekali apa yang diomongin.

 

kenapa kita jadi kya orang-orang pinter aja,

di provokasi dikit, serasa dah punya ilmu seutuhnya,

cuma nonton berita yang kya drama serial,

serasa dah merasakan dan mengalami semua itu.

 

kenapa kita jadi kya orang pintar,,

yang demo menuntut pendidikan murah,

tapi dengan cara membakar kampus dan sekolahnya sendiri.

duit perbaikan gedung emang dari mana???

 

 

masih anggap mereka pintar?

mahasiswa yang selalu mengatasnamakan rakyat??

rakyat yang mana???

 

kami rakyat yang bodoh,,

kami bukan seperti mahasiswa yang pintar!!

pintar membawa senjatake kampus!

pintar membawa narkoba ke kampus!

pintar membawa kondom ke kampus!

 

 

kami rakyat yang bodoh,

tak rela diatasnamakan oleh mahasiswa yang pintar!

kami lebih rela diatasnamakan oleh tukang sapu jalanan.

yang cuma diam klo ditanya sistem perekomian indonesia!

karena memang mereka ga tau dan tidak cukup ilmunya.

 

tapi mereka sangat bijak dengan diamnya itu.

itulah yang dinamakan diam itu emas.

 

so, jadilah mahasiswa yang patut membawa nama rakyat,

jangan seperti mereka,

yang mengaku mahasiswa,

padahal hanya manusia purba yang bertoga.

Disadur dari : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4305121

NB : dari tahun 1998-2011, 12 tahun sejak rezim soeharto turun dan mahasiswa bebas menyuarakan aspirasinya.12 tahun,berapa banyak mahasiswa yg bebas menyuarakan aspirasinya itu yg sudah lulus?ribuan.seharusnya,dari ribuan itu,mereka sudah bisa membawa perubahan buat negeri ini.hasilnya?